Monday, 20 July 2009

Jepang Dalam Atlas Al Qur'an

Negeri-negeri Matahari Terbit

Negeri Jepang

Negeri Jepang adalah sebuah negera kepulauan dikawasan samudera Pasific. Jepang memiliki empat buah pulau yang utama yaitu: Honshū, Hokkaidō, Kyūshū, dan Shikoku. Jepang dengan dengan luas 377,837 km2 atau 145,884 mi2[1] juga merupakan Negara industri maju yang termasuk salah satu Negara kelompok G8[2] bersama dengan Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Canada dan Russia. Agama Budha dan kepercayaan Jepang yakni Shinto mendominasi pemahaman agama di Jepang. Kepercayaan Shinto yang berarti “Jalan menuju ke Tuhan” ini berkembang semenjak masa pra sejarah.[3] Serta hidup subur pada masa yang sangat panjang hingga zaman modern sekarang ini. Shinto menjadi tradisi dan sekaligus agama bagi bangsa Jepang. Orang-orang Jepang memanggil dirinya sebagai Nihon atau Nippon yang berarti “Berasal dari Matahari”.[4]

Dalam kepercayaan Shinto mereka mengenal adanya Dewi Matahari atau Amaterasu Omikami [5] yang merupakan dewi paling terkemuka bagi tradisi dan budaya agama Shinto. Ia memberikan inspirasi yang kuat bagi nilai-nilai spiritual Jepang. Amaterasu Omikami dalam mitologi Jepang adalah putri dari dewa tertinggi dalam agama Shinto yakni Kami. Ia merupakan dewa dengan kekuatan terbesar bagi agama Shinto. Agama ini melakukan peribadatan pada sebuah kuil suci yang salah satunya terdapat di Ise,[6] seperti pada gambar berikut:

Gambar peta negeri Jepang yang merupakan salah satu negeri pada kawasan Samudera Pasifik yang dijuluki sebagai Negeri Matahari terbit.



[1] Japan Facts and Figure, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved

[2] Group of Eight, economic and political forum for eight of the world’s most industrialized nations: Canada, France, Germany, Italy, Japan, Great Britain, Russia, and the United States. Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[3] Shinto (Japanese, “the way of the gods”), Japanese cult and religion, originating in prehistoric times Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[4] The Japanese call their country Nihon or Nippon, which means “origin of the sun.” Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[5] Amaterasu, sun goddess of Japan's Shinto pantheon and legendary ancestor of Japan's imperial family. Her full name is Amaterasu Ōmikami, which means in Japanese Great Spirit Illuminating the Heavens. Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[6] The most sacred shrine of the Shinto religion is located in the Japanese city of Ise. Simple wooden structures with thatched roofs form the shrine buildings. They are rebuilt every 20 years. These steps lead up to the shrine area. Today, the Ise Shrine is a popular destination for tourists and pilgrims.Corbis/Michael Freeman Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Jepang Pada Koordinat 410

Negeri Jepang adalah negeri yang dilalui oleh koordinat 410 . Kenyataan ini memberikan lagi kepada kita sebuah kenyataan lain dari kitab suci Al Qur’an yang juga dapat kita lihat pada surat 41 (Fushilat) yakni pada ayat 37 yang berbunyi sebagai berikut:

“Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah.”

(Fushilat (41) : 37)

Dari kenyataan tersebut kita dapat melihat bahwa Negeri Jepang memang sebuah negeri yang masih memiliki keyakinan bahwa Matahari itu adalah salah Dewi yang mereka sembah pada keyakinan Shinto mereka. Hingga saat ini keyakinan Shinto ini masih menjadi symbol Negara Jepang dan keyakinan ini pernah juga mereka paksakan pada negeri-negeri jajahan mereka seperti Indonesia pada masa perang kemerdekaan yakni antara tahun 19 41 hingga tahun 1945.

Jepang Pada Koordinat 370

Negeri ini juga dilalui oleh koordinat 370 dan juga memberikan kepada kita kenyataan yang jelas tentang kebenaran kitab suci Al Qur’an yakni pada surat 37 (Ash Shaffat) ayat 5 yang memberikan fakta lagi tentang keberadaan negeri Jepang ini, sebagaimana yang dapat kita saksikan dalam ayat Al Qur’an berikut ini:

“Tuhan langit dan bumi dan apa yang berada di antara keduanya dan Tuhan tempat-tempat terbit matahari.”

(Ash Shaffat (37) : 5)

Dari kenyataan tersebut kita dapat kita lihat bahwa Negeri Jepang adalah sebuah negeri yang terletak di wilayah Timur, yakni tempat terbitnya matahari pagi. Negeri termasuk salah satu negeri pada wilayah belahan Timur dari Samudera Pasifik yang mendapat sinar matahari pagi. Bersama negeri-negeri yang terdapat pada wilayah yang sangat luas dari Samudera Pasifik itu seperti bangsa Micronesia, Melanesia dan bangsa Polynesia yang mereka juga merasakan hadir mentari pagi dari ufuk timur. Kenyataan seperti inilah yang telah menjadikan mereka dijuluki sebagai negeri Matahari terbit serta memiliki lambang-lambang bendera berupa gambar Matahari serta Matahari terbit. Mereka menyaksikan Matahari terbit pada batas pandang ditengah lautan seperti daerah bagian barat yang menyaksikan Matahari terbenam pada batas pandang lautan. Dengan kenyataan ini negeri Jepang menjadikan kenyataan ini sebagai salah satu symbol mereka yang sebagai negeri berasal dari Matahari atau negeri Matahari Terbit[1] atau negeri Dewi Matahari .[2]



[1] The Japanese call their country Nihon or Nippon, which means “origin of the sun.” The name arose from Japan’s position east of the great Chinese empires that held sway over Asia throughout most of its history. Japan is sometimes referred to in English as the “land of the rising sun.” Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[2] In writing the name of the country, the Chinese characters Dai-Nippon and Dai-Wa have both been used. The reason is that, when Chinese writing was introduced to this country, the characters for Dai-Nippon were chosen to represent the name of the country, but they were pronounced as “Yamato.” This choice may have been guided by the fact that Japan is the Land of the Sun Goddess, or it may have thus been called because it is near the place where the sun rises....Source: Sources of Japanese Tradition, vol. I. New York: Columbia University Press, 1958. The Records of the Legitimate Succession of the Divine Sovereigns, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.


Sunday, 12 July 2009

Selamat Menyaksikan Keajaiban Al Qur'an

Bismillahirahmanirahim

Segala puji bagi Allah, Tuhan Yang Dengan-Nya berkembang segala sesuatu menurut kadarnya. Segala Puji bagi Allah Yang telah membentangkan jalan yang lurus bagi penelusuran hikmah-hikmah kebenaran yang rahasia. Segala puji bagi Allah Yang Dengan-Nya tumbuh semarak bunga kesejukan ilmu dan perkembangan khazanah keilmuan hingga ke akhir zaman. Rasa Syukur yang dalam kita panjatkan kehadirat-Nya Yang memiliki sifat Maha Mensyukuri. Rasa Syukur yang dalam kita tujukan dengan penuh penghambaan dalam balutan Kasih dan Sayang-Nya. Rasa Syukur yang dalam kita haturkan pada-Nya Yang telah memudahkan Al Qur’an sebagai muara dari segala ilmu yang ada di dunia.


Selanjutnya, tiada yang pantas kita ucapkan kepada seorang Nabi Akhir Zaman, Muhammad SAW sebagai penerima keindahan kalam-kalam-Nya yang Agung. Yang telah menorehkan tinta emas kegemilangan peradaban manusia dan kemanusiaan. Atas segala perjuangan dan keutamaannya sangatlah pantas kita haturkan Shalawat beserta salam hormat kita baginya dan bagi pendahulu-pendahulu umat yang gagah dan perkasa bersama para malaikat-Nya dan bersama Allah Azza Wa Jalla. Semoga kecemerlangan beliau tetap akan mengumandang dalam hati setiap diri yang senantiasa mendapat hidayah-Nya serta akan menghembuskan kehangatan semangat kehidupan yang paling murni hingga masa penantian bagi hamba yang senantiasa menantikan datangnya janji-janji Allah Yang Maha Menepati Janji.


Al Qur’an, sebagai sebuah kitab yang berisikan intisari kehidupan yang telah dimampatkan dalam renungan-renungan panjang para ulama-ulama salaf dari umat ini hingga kehadiran ulama-ulama mutaakhirin, telah memenuhi deretan pandangan dan gambaran yang tak akan habis ditelan zaman, seperti ungkapan Sang Khalik yang mengistilahkan Kitab-Nya sebagai lautan yang tidak akan habis-habisnya sebagai bahan tulisan dari ranting-ranting pepohonan sebagai penanya. Sungguh agung ungkapan tersebut, dalam ke Maha Rahasiaan Ilmu-Nya nan bertebaran pada sisi-sisi kehidupan di sudut-sudut langit hingga pada kedalaman zat yang halus tak terperi. Subhanallah, Para pemikir umat ini telah menghamparkan pesona kesemarakkan karya-karya yang besar dalam menyelami kedalaman pesan-pesan illahi pada setiap kurun dan pada setiap belahan dunia dan akan selalu seperti itu hingga kegairahan tersebut dijemput oleh Allah Yang Maha Kuasa ke haribaan-Nya.


Kaum Muslimin yang berbahagia, sungguh akan merugi kiranya bagi setiap jiwa yang lalai dalam memperhatikan ayat-ayat-Nya. Memperhatikan dalam kesungguhan dan ketakjuban taffakkur pada penciptaan alam-Nya nan fana. Kaum Muslimin yang berbahagia, hendaklah memperhatikan setiap diri akan pentingnya meletakkan setiap perenungannya pada kalimat-kalimat-Nya, yang tidak hanya mengutamakan nilai-nilai dasar pada kegairahan membacanya yang sungguh tak akan dapat tergantikan oleh bacaan apapun didunia. Karena pendahulu umat ini telah mengakabarkan bagi kita bahwa membaca dalam kenikmatan tadabbur itu benar-benar akan mengantarkan kita pada kelezatan yang tak ternilai oleh apapun juga. Kaum Muslimin, kenikmatan tadabbur itu akan bermuara pada dialog-dialog yang sesungguhnya dengan Sang Pencipta. Raihlah kegemilangan itu beserta hamba-hamba yang pernah hanyut dalam pelukan keindahan percikan ayat-ayat Allah SWT, seperti Rasulullah SAW, seperti Abu Bakar Shiddiq ra, seperti Umar bin Khattab ra, Utsman bin Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra serta jutaan lagi para pewaris Nabi hingga ke abad ini. Sungguh mulia perbuatan mereka, sungguh agung jejak-jejak langkahnya, hingga umat ini tak akan merasa sendirian untuk akhirnya menemui Allah SWT di penghujung jiwanya.


Kaum Muslimin yang berbahagia, saya haturkan ucapan salam yang paling dalam dari lubuk hati ini, sehingga sudilah kiranya untuk mau membaca, memperhatikan serta menelaah dan ikut serta dalam upaya memberikan masukan-masukan yang positif pada buku yang sangat banyak kekurangan ini sehingga nilai-nilai yang paling murni dari kebenaran sejati akan muncul dan menjadi keindahan yang mengkristal pada perhiasaan umat ini dan akan melengkapi perhiasan-perhiasaan sebelumnya yang telah lebih sempurna.


Kaum Muslimin yang berbahagia, buku yang sedang berada di tangan anda ini, memiliki tiga bab yang diantaranya bab pendahuluan yang berisikan kepada pembaca pemikiran-pemikiran utama tentang eksistensi kebenaran Al Qur’an dalam perjalanan perkembangan pemikiran yang menyelimutinya. Penulis berupaya sekuat tenaga untuk memberikan selintas gambaran tentang perkembangan pemikiran dalam pengungkapan hikmah-hikmah Al Qur’an yang dahulunya masih merupakan sesuatu yang sangat rahasia. Pergumulan pemikiran tersebut telah menjadikan umat ini lebih arif dan bijaksana dalam menangkap berbagai makna yang sangat dinamis dari pesan-pesan ilahi. Selanjutnya, pada bab kedua, penulis mengutarakan penemuan-penemuan yang penulis perdapat semenjak awal tahun 2004 hingga sekarang tentang fakta-fakta keserasian, kesamaan dan kebenaran pemberitaan Al Qur’an dengan fakta-fakta yang terdapat di alam melalui salah satunya dari sisi ilmu Geografi, yang menjadi muara bagi pencerahan ilmu-ilmu eksakta lainnya. Fakta-fakta yang berkesinambungan dan berkelanjutan ini akhirnya memberanikan penulis untuk mencoba menguntai tulisan demi tulisan berdasarkan kebenaran yang terdapat di dalam kitab suci Al Qur’an serta kebenaran tentang keadaan sesuatu di muka bumi ini. Buku yang berada di tangan pembaca ini adalah merupakan rangkaian yang insya Allah akan senantiasa bertambah pada waktu-waktu yang akan datang karena penemuan demi penemuan selanjutnya tidak dapat penulis bendung, sehingga segala upaya untuk mencoba menerbitkan terbitan pertama ini telah penulis lakukan. Pada volume pertama ini penulis mencoba memberikan selintas gambaran yang jelas tentang hubungan yang terjadi antara pengungkapan kebenaran Al Qur’an dengan kebenaran yang terdapat di alam yang menjadi sebuah mata rantai yang sangat dinamis dan tidak terputus. Ketakjuban akan penemuan inilah yang menggerakkan penulis untuk mulai melangkah lebih jauh dengan penerbitan perdana ini. Pada bab ketiga yang berisikan harapan-harapan besar penulis akan kelangsungan penelitian dan penelaahan lebih jauh lagi oleh sidang pembaca demi terwujudnya nilai-nilai kebenaran yang menjadi keimanan sejati pada hati setiap Muslim. Selanjutnya penulis sangat mengharapkan buku ini untuk menjadi bahan dasar bagi pemenuhan manfaat yang sebesar-besar dan seluas-luasnya pada dakwah Islam serta akan menjadikan kitab suci Al Qur’an sebagai satu-satu kitab yang akan dibaca oleh sebahagian besar penghuni bumi ini, Isnya Allah.


Akhirnya penulis berharap semoga upaya yang penulis lakukan ini beserta dukungan yang sangat dalam dari kedua orang tua, istri, anak-anak, para sahabat tercinta serta perhatian dan kesungguhan dari pembaca yang berbahagia dibalasi oleh Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang dengan limpahan rahmat dan berkah-Nya hingga ke Yaumil Mahsyar kelak,. teriring salam paling mesra dari penulis untuk kita semua semoga kita akan ditunjukkan oleh Allah SWT kepada jalan kebenaran yang sesungguhnya, Amin Ya Rabbal ’Alamin. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.