Monday, 20 July 2009

Peradaban Mesopotamia Dalam Atlas Al Qur'an

Peradaban Mesopotamia

Peradaban Mesopotamia adalah salah satu peradaban tertua di muka bumi. Peradaban ini mengilhami banyak peradaban-peradaban selanjutnya, setelah mereka. Kawasan Mesopotamia ini telah memunculkan peradaban-peradaban seperti Babilonia, Assyria, Sumeria. Bangsa Sumeria adalah bangsa yang pertama kali membangun peradaban di kawasan ini sekitar 3500 tahun sebelum masehi serta menjadi negeri dengan pembangunan kota pertamanya. Hal ini dapat ditandai dengan banyaknya situs-situs purbakala yang bertebaran disepanjang kedua sungai yang membelah kawasan ini yakni sungai Tigris dan sungai eufrat.[1]

Pada masa ini banyak sekali Allah SWT turunkan para nabi-Nya, seperti contoh Nabiullah Ibrahim AS, Nabiullah Luth AS, Nabiullah Ismail AS, Nabiullah Ishak AS serta para nabi sesudahnya. Ketika Nabi Ibrahim AS masih berada di Babylonia (negeri matahari terbit) beliau pernah berucap seperti yang tertera di dalam kitab suci Al Qur’an sebagai berikut:

“Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, ini yang lebih besar", maka tatkala matahari itu telah terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.”

(Al An’aam (6) : 78)

Pada masa ini juga di kawasan Mesir berkembang juga peradaban tertua yakni peradaban Mesir yang dipimpin oleh para Paraokh atau Fir’aun dalam literature Islam. Pada masa ini negeri Babylonia dipimpin oleh seorang raja yang bernama Namruj, yang masih menyembah patung-patung. Kisah perjuangan dakwah Nabiullah Ibrahim AS ini banyak kita temukan dalam ayat Suci Al Qur’an seperti dalam ayat Al Qur’an berikut ini:

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu heran terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang lalim.”

(Al Baqarah (2) : 258)

Itulah keberadaan Nabi Ibrahim pada wilayah Mesopotamia yakni negeri Babylonia pada masa pemerintahan Raja Namrudz.



[1] Cradle of Civilization Known as the “cradle of civilization,” Mesopotamia served as the site for some of the world’s earliest settlements. Named after the Greek word meaning “between the rivers,” Mesopotamia occupied the area between the Tigris and Euphrates rivers that now constitutes the greater part of Iraq. The Sumerian civilization, which began in the region in about 3500 bc, built a canal system and the world’s first cities.© Microsoft Corporation. All Rights Reserved. Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Pada perkembangan selanjutnya diketahui pula bahwa Kerajaan Babilonia menjadi salah satu peradaban pertama dimuka bumi yang berkembang semenjak abad ke-18 hingga abad ke 6 sebelum masehi[1]. Babylonia (dalam bahasa Babylonia Bābili, “Tembok dari Tuhan”, dalam bahasa Persia Tua yakni Babirush), merupakan kota pada masa lalu dari Mesopotamia, yang lazim dikenal sebagai Sumer dan kemudian dikenal dengan Sumer dan Akkad, yang terletak antara Sungai Tigris dan Sungai Euphrates, dibagian selatan dari kota modern Bagdad, Iraq sekarang.

“Babylonia (Babylonian Bābili,”gate of God”; Old Persian Babirush), ancient country of Mesopotamia, known originally as Sumer and later as Sumer and Akkad, lying between the Tigris and Euphrates rivers, south of modern Baghdād, Iraq.”[2]

serta memiliki banyak peninggalan-peninggalan yang mencenggangkan dunia, seperti istana tergantungnya[3] yang dibangun pada masa pemerintahan raja Nebuchadnezzar II serta sistim pemerintahannya yang baik dan besar. [4]Kerajaan ini juga menghimpun kedua sungai besar yang membelah negeri ini yakni Tigris dan Eufrat, yang menjadi pusat perhatian bangsa ini dalam bidang pertanian, perhubungan, pertambangan serta dalam keyakinan mereka tak terlepas dari kedua sungai ini. Keberadaan sungai ini telah terkenal hingga ke Yunanii dan Romawi pada masa belakangan. Semasa peradaban bangsa Babylonia inilah hidup Nabiullah Ibrahim as serta memberikan peringatan-peringatan kepada salah seorang rajanya yakni Namruj yang namanya hingga kini masih dikenal sebagai sebuah kota yang ada di Turki. Pada kira-kira tahun 1000-612 sebelum masehi adalah masa pembangunan besar-besaran pada negeri Assyria Baru yakni pada masa pemerintahan Ashurnasirpal II (883-859 BC) di kota Nemrud ini.[5]



[1] The Babylonian civilization, which endured from the 18th until the 6th century bc Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[2] Babylonia, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[3] Hanging Gardens of Babylon

This hand-colored engraving by 16th century Dutch artist Maarten van Heemskerck depicts the Hanging Gardens of Babylon, one of the Seven Wonders of the World. Technically, the gardens did not hang, but grew on the roofs and terraces of the royal palace in Babylon. Nebuchadnezzar II, the Chaldean king, probably built the gardens in about 600 bc as a consolation to his Median wife who missed the natural surroundings of her homeland.Encarta EncyclopediaTHE BETTMANN ARCHIVE Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[4] Kingdom of Babylonia

Babylonia was one of the first civilizations in the world. It formed around the region where the Tigris and Euphrates rivers flow in relatively parallel courses toward the Persian Gulf. The region is also part of what is known as the Fertile Crescent, so named because the people who lived in this crescent-shaped area developed rich, irrigated farmlands.Encarta Encyclopedia© Microsoft Corporation. All Rights Reserved Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[5] The first of the great late Assyrian kings was Ashurnasirpal II (reigned 883-859 bc), who built at Nimrud (ancient Kalhu or Calah of the Bible). The walls of Nimrud encompassed an area of about 360 hectares (890 acres) which included the citadel, with the main royal buildings like his Northwest Palace, which was decorated with relief sculptures. Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Berarti Nabi Ibrahim AS hidup pada masa sebelum pembangunan kota Nimrud tersebut, karena pemberian nama sesuatu tempat biasanya diberikan kepada seseorang untuk mengenangnya karena jasa-jasanya atau karena memang ia pernah berkuasa selama ia masih hidup dan ketika ia sudah meninggal dunia maka diberikan namanya kepada nama-nama tempat pada suatu kota atau negeri. Negeri Babylonia yang terletak antara Sungai Tigris dan Sungai Euphrates ini adalah sebuah kota yang sangat maju pada wilayah Timur. Menandingi kemasyuran kota-kota tua di wilayah Barat yakni kota-kota tua di Yunani dan kota-kota tua di wilayah Benua Afrika yakni kota-kota tua seperti Heliopolis, Memphis dan kota-kota lainnya di negeri Mesir tersebut. Sungai Tigris yang masih mengalir hingga sekarang.

Dalam mitologi, kawasan Mesopotamia ini juga mengenal adanya banyak dewa-dewa yang mereka jadikan sembahan dan tuhan-tuhan mereka salah satunya mereka juga mengenal adanya Dewa-dewa Matahari sepertii Dewa Matahari Shamash, yakni dewa matahari pada negeri babylonia. Negeri Assyria juga memiliki peninggalan berupa kuil Matahari yang dibangun pada masa belakangan setelah negeri ini dikuasai oleh Imperium Romawi pada abad ke-1 sebelum masehi. Kuil yang terletak di Palmyra[1] daerah pada wilayah Syria sekarang (yang disebut sebagai negeri Syam). Negeri Syams ini adalah istilah yang sangat terkenal hingga di zaman Rasulullah SAW masih hidup. Rasulullah SAW mengadakan perjalanan dagang yang sangat jauh dari Mekkah ke negeri Syams ini untuk mengadakan perdagangan. Negeri Syams (Matahari) ini jelas sebagai sebuah istilah yang sejak dahulu diberikan pada wilayah luas ini karena disini terdapat banyak kuil-kuil yang melambangkan Dewa Matahari. Terdapat sebuah kuil yang terkenal di wilayah Syams ini, karena ditempat inilah dilakukan penyembahan terhadap matahari. Gambar salah satu kuil terkenal di wilayah Syams yakni kuil Palmyra. Selain Kuil Matahari di Palmyra ini terdapat juga beberapa buah lokasi yang merupakan pusat penyembahan Dewa Matahari yakni di kota Hom dan di lembah Bekáa atau Al Biqā‘, yang pada kedua lokasi ini terdapat peninggalan kuil Matahari seperti tulisan-tulisan berikut ini:

Bekáa Valley or Al Biqā‘, fertile valley in Lebanon and Syria, located about 30 km (about 19 mi) east of Beirut. Bekáa Valley is situated between the Lebanon Mountains to the west and the Anti-Lebanon Mountains to the east.”

“The most noted historic site in the valley is Baalbek, an ancient city named for the Canaanite god Baal. Baalbek has impressive Roman ruins, including temples to Bacchus, Jupiter, Venus, and the sun.”[2]

Di dalam kitab Suci Al Qur’an jelas tertulis tentang penyembahan Ba’l yakni Dewa yang terdapat pada lembah Bekáa dalam Surat 37 (Ash Shaffat) ayat 125 yang berbunyi sebagai berikut:

“ Patutkah kamu menyembah Ba'l dan kamu tinggalkan sebaik-baik Pencipta,”

(Ash Shaffat (37) : 125)

Dalam ayat diatas jelas terlihat oleh kita bahwa pada lembah Al Biqā tersebut terdapat kuil yang melambangkan tuhan dari bangsa Phunicia, seperti dalam tulisan dari Tafsir Al Qur’an Departemen Agama RI erikut ini:

“Ba’l adalah nama salah satu berhala dari orang Phunicia.”[3]

Sekarang marilah kita lihat peta lokasi lembah Bekáa yang terletak antara Lebanon dan Syria dalam peta berikut ini:



[1] Palmyra

The ancient city of Palmyra, located in what is now Syria, was a caravan station in the 1st century bc and became a major city-state of the Roman Empire in the 1st century ad. The ruins at Palmyra include the temple of the Sun (or Baal) and an impressive colonnade of nearly 1500 Corinthian columns. Shown here the forms of the Great Colonnade stand below Qalaat ibn Maan, a 17th century Arab castle. Encarta EncyclopediaCORBIS-BETTMANN/Charles and Josette Lenars Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[2] Bekáa Valley, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[3] Yayasan Penyelenggara Pentafsir / Pentafsir Al Qur’an, Al Qur’an Dan Terjemahnya, Khadim al Haramain asy Syarifain (Pelayan kedua Tanah Suci) Raja Fahd ibn ‘Abd al ‘Aziz Al Sa’ud, Saudi Arabia, 1971, 727.

Lembah Bekáa atau Al Biqā‘, sebuah lembah di Lebanon dan Syria, yakni sekitar 30 km dari Timur Beirut. Lembah Bekáa terletak antara dua buah Bukit yakni Pegunungan Lebanon dan Pegunungan Anti-Lebanon di sebelah timur. Dalam catatan sejarah yang penting tentang situs di lembah adalah Baalbek, sebuah kota tua yang melambangkan tuhan bangsa Canaanite yakni Dewa Baal. Baalbek adalah dalam masa pemerintahan Romawi yang meliputi kuil-kuil untuk Bacchus, Jupiter, Venus dan Dewa Matahari. Dalam sumber yang lain kita melihat bahwa bangsa yang memiliki tuhan Ba’al seperti keterangan diatas tidak saja bangsa Canaanite tetapi terdapat beberapa bangsa lain seperti bangsa Hebrew, Chaldean, Phoenician, dan Carthaginian yang masing-masing mereka menyebut Baal sebagai Baalbek, Ethbaal, Jezebel, Hasdrubal dan Hannibal.

“The name Baal was compounded with many Hebrew, Chaldean, Phoenician, and Carthaginian personal and place-names, such as Baalbek, Ethbaal, Jezebel, Hasdrubal, and Hannibal.”[1]

Bangsa Phunicia adalah bangsa yang diketahui sebagai penguasa bahagian Utara Canaanite pada tahun 1100 Sebelum Masehi. Orang-orang Phoenicia ini didalam bahasa Yunani disebut Phoinos, yang berarti “merah”. Adalah sebuah referensi bagi campuran warna merah dan hijau yang unik yang diproduksi oleh bangsa Phoenicia dari sejenis hewan laut Murex Seashell. Bangsa Phoenicia ini pembangun pertama kali jenis huruf dan sangat piawai dalam mengembangkan seni perkapalan, dan mereka mendominasi Laut Mediterania selama 400 hingga 450 tahun.

“By about 1100 bc the northern Canaanites became known as Phoenicians (from the Greek word phoinos, meaning “red,” a reference to the unique purple dye the Phoenicians produced from murex seashells). The Phoenicians developed the first alphabet and mastered the art of navigation, and they dominated the Mediterranean Sea trade for 400 to 450 years.”[2]

Dalam melakukan perjalanan hingga ke Libanon (sekarang) bangsa Phoenicia menggunakan kapal-kapal Dagang, yang merajai kawasan luas Lautan Mediterania jauh sebelum bangsa Romawi menguasai kawasan laut tersebut. Salah satu bentuk kapal-kapal pertama bangsa Phunicia yang telah menguasai Lautan Mediterania seperti dapat dilihat dalam gambar dibawah ini, mereka menguasai perdagangan di Laut Mediterania untuk Ratusan tahun hingga abad ke-5 Sebelum Masehi.

“Based in what is now Lebanon, the Phoenicians used merchant ships, such as the one pictured here, to dominate Mediterranean Sea trade for hundreds of years until about the 5th century bc.”[3]

Satu lagi peninggalan dari kuil Matahari dapat kita lihat pada sebuah kota bersejarah yakni kota Hom. Kota ini terletak di sebelah Barat Syria, didekat Sungai Orontes. Yang diketahui dalam sejarah masa lalu sebagai Emesa, kota yang memiliki sebuah kuil Dewa Matahari, yang dalam kekaisaran Romawi dikenal sebagai Heliogabalus, yang dikenal dalam masyarakat asli sebagai imş, yang bersamaan waktunya dengan seorang menteri. Kota ini dibuat oleh colonial Romawi dibawah kekuasaan Kaisar Caracalla di awal abad ke-3 masehi.

imş or Homs, city in western Syria, on the Orontes River. Known in antiquity as Emesa, the city had a temple to the sun god, in which the Roman emperor Heliogabalus, a native of imş, was at one time a priest. The town was made a Roman colony under Emperor Caracalla in the early part of the 3rd century.”[4]

Gambar salah satu sudut kota ini yang peninggalannya dapat kita saksikan dalam gambar sebuah bangunan bersejarah yang berupa kastil yang banyak terdapat di Negara-negara di Eropa dan bentuk kastil seperti ini juga terdapat di kota Hims, seperti pada gambar dibawah ini:

“Castle of the Knights

The medieval citadel known as the Castle of the Knights is near the Orontes River in imş, also known as Homs, Syria.”[5]

Gambar diatas adalah sebuah Kastil yang terletak di dekat Sungai Orontes, Syria di kota imş.

Peradaban selanjutnya setelah Assyria adalah peradaban Sumeria yang dalam mitologinya juga mengenal adanya berbagai dewa-dewa yang salah satunya adalah Dewa Matahari Utu .[6] Ketiga peradaban dengan dewa-dewa Mataharinya itu terletak sebahagian besar pada daerah Negara Iraq sekarang serta sebahagian negera Turki dan Syria. Jika kita kembali menyaksikan peta Negara tempat situs peradaban ketiga peradaban besar dalam wilayah Mesopotamia itu dapat kita lihat dalam peta berikut ini :



[1] Ba’al, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[2] Libanon (Country), Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[3] Libanon (Country), Encarta EncyclopediaCorbis Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[4] imş, Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[5] Encarta EncyclopediaLeo de Wys, Inc./Jon Hicks Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

[6] Next in importance to the creating deities were the three sky deities, Nanna, the god of the moon; Utu, the sun god; and Inanna, the queen of heaven. Microsoft ® Encarta ® Reference Library 2005. © 1993-2004 Microsoft Corporation. All rights reserved.

Peta tersebut dilalui oleh koordinat 410 yakni pada bujurnya dan daerah tersebutlah yang menjadi letak peradaban Mesopotamia yang berkembang hingga ribuan tahun sampai datang peradaban Persia setelahnya. Kembali kita dihadapkan kepada suatu kenyataan bahwa daerah yang dilalui oleh kooedinat 410 diatas ternyata memiliki mitos penyembahan terhadap dewa Matahari dan ini menunjukkan lagi bagi kita bahwa kebenaran ayat al Qur’an pada surat 41 ayat 37 yang menyatakan bahwa kita tidak boleh menyembah Matahari, Bulan maupun Bintang tetapi hendaklah kita menyembah Allah SWT yang telah menciptakkannya. Sebagaimana yang telah kita terangkan pada halaman terdahulu. Hal ini jelas memberikan kenyataan bagi kita tentang bukti kebenaran kitab suci Al Qur’an tersebut.

3 comments: